Degupku tidak mungkin membual.
Alasannya adalah kamu.
Alasannya adalah kamu.
Alasannya adalah kamu.. dan kita.
"Biarkan aku mencobanya," ujarmu akhirnya setelah entah berapa waktu yang terlewat di kamar itu. Aku tidak bisa menghitung berapa lama waktu yang terlewat. Aku tidak bisa berhenti bersuara dan terus mengajukan pertanyaan. Aku tidak bisa hanya mengangguk sambil memanjangkan lengan untuk menerima semua alasanmu. Aku terus mendesakmu untuk memberikan cinta yang selama ini kau simpan rapat di dalam saku kemejamu.
————
Aku tidak terkejut, aku hanya bingung bukan kepalang mempertanyakan bagaimana bisa kamu menyimpan cinta seberat itu di saku kemejamu.
Ternyata seberat itu. Tidak seperti yang terlihat.
"Kamu yakin?"
"Aku ikuti apa maumu. Aku yakin." Aku menatap ke dalam matamu yang kuminta untuk balas menatapku. Sendu. Mata yang dahulu biasa aku curi pandang dari kejauhan.
Merasa memberikan beban yang mungkin tidak kelihatan, sekarang justru aku yang takut untuk mengecewakanmu.
"Kalau nantinya kamu menyesal, bagaimana?"
tanyaku padamu, isi kepalaku bergumul selagi aku berdebat dengan diriku sendiri.
Kamu mulai meyakinkanku bahwa suara jahat yang ada di kepalaku, suara jahat yang mulai memeluk tubuhku; hanya keliru.
Apa isi pikiranmu saat ini? Rasanya ingin aku berusaha membelah lautan suara-suara di dalam kepalamu. Apa perasaanmu? Degup seperti apa yang dibuat oleh jantungmu saat kamu memutuskan ini?
————
"Aku tidak pernah seperti ini," ujarmu.
‘Aku yang pertama… tapi mungkin bukan yang terakhir.’ sahut isi kepalaku.
Aku benci isi kepalaku. Ingin rasanya aku menampar diriku agar aku tersadar, agar aku tidak kabur dan menyusup ke pikiran-pikiran tentang masa depan atau masa lalu.
Aku ingin sadar bahwa aku ada di masa sekarang. Bersama kita. Bersama kamu yang telah membuat hatiku luluh. Bersama kamu yang menyuguhkan kesempatan. Bersama kamu yang mencoba memberikan rasa yakin pada beberapa waktu terakhir yang kita punya—setidaknya untuk malam itu.
————
Aku takut terlempar pada pengandaian akan masa depan.
Tapi yang aku tahu pasti; di momen itu, aku telah menggenggam cinta dari saku kemejamu. Di kala yang abadi itu, aku milikmu.
—————————
Tulisan ini sudah pernah dibagikan di tumblrku
Aucun commentaire:
Publier un commentaire