HISTORY♥♥♥

jeudi 23 septembre 2021

Lunapark: Rifqi's POV

Merhaba!
 
Aku mau melanjutkan tulisan ini  tapi bukan dengan sudut pandang aku, melainkan Rifqi. Jadi setelah aku memaksa minta dia untuk nulis di buku pink milik kami, dia pun segera mewujudkan permintaanku layaknya bapak peri yang baik hati. Udah yuk langsung aja.
 
RIFQI'S POV 
19 September 2021
 
Jadi sebenernya hari ini google calendar ngingetin agenda buat nonton bareng. Tentunya dengan my bebeb. Jadi awalnya satu minggu sebelum ini kami lihat ada spanduk pemberitahuan kegiatan nonton di ruang publik, atau istilah kerennya layar tancap. Tapi mamah bilang itu namanya bioskop misbar (gerimis bubar). Kebetulannya adalah film yang diputer itu film kartun animasi semua, jadi kalo gua sih seneng-seneng aja. Of course, sebagai Disney Lover Mania, gimana ngga seneng kan bisa nonton Up dengan dubbing bahasa alien di tengah taman kota. Apalagi set tempat bioskop terbukanya itu pake bekas stadion sisa peninggalan abad ke-16, yang mana pada masa itu Ken Arok menaklukan Kerajaan Singosari. Oke balik ke cerita.
 
Jadi di siang harinya bersiap-siaplah kami, tepatnya gua sih, gua masak terus nelfon Ibu Negara juga. Sementara Sang Permaisuri baru bangun dari tidur panjangnya. Dan setelah melewati diskusi yang cukup alot, musyawarah menghasilkan mufakat yang menyatakan bahwa kami akan berangkat setelah menunaikan ibadah haji, maaf maksudnya ibadah shalat Maghrib. Maka bergegaslah dua anak cucu Adam ini setelah bergonta-ganti mencari OOTD yang sesuai. Lalu kami menanti kehadiran limosin jemputan di halte kesayangan, naas, mobil jemputan datang terlambat, dan sialnya gua belom selesai masuk pintu Si Supir udah nyelonong aja sambil nutup pintu yang berakhir gua kejepit. Tapi gua yang ngga bisa marah ini cuma diem dan termenung sementara Si Supir minta maaf dan bilang katanya ngga ngeliat gua makanya langsung nutup pintu. Keren sih gua apresiasi attitude-nya Si Supir yang mau minta maaf dan ngakuin kesalahannya. Yah untungnya emang ngga bikin gua kenapa-napa juga sih.
 
Dan abis itu sampailah kami di pemberhentian terakhir (bukan akhirat santai). Tujuan pertama kami adalah dolum noktası (tempat mengisi kartu bis, RED) karena Anya harus isi dulu kartu bisnya. Setelah itu next stop-nya adalah the one and only rumah makan pizza Turki paling ekonomis di Turki yaitu Pidematik (sorry bukan endorse). Tapi jujur pide di sini tuh maknyoss. Apalagi malam itu, padahal kami udah hampir bete karena makanannya ngga dateng-dateng. Tapi ternyata proses penantian yang berbuah begitu manis, pidenya dateng pas baru kurang dari satu menit keluar dari tungku, dengan keju yang masih meleleh dan kepulan asap yang begitu memanjakan indera penciuman. The point is gua berani bilang kalo itu adalah pide terenak yang pernah gua makan. Terlebih dengan pemandangan terindah dari mahakarya Sang Pencipta wanita cantik yang memenuhi pusat pandangan gua (asik gombal). Meskipun Anya ngeluh terus, katanya orang di belakang ngeliatin kami karena makan pide pake tangan. Padahal makan pake tangan way much better than pake kaki.
 
Sampailah kami pada destinasi utama yaitu taman baru (yang sekarang ngga baru-baru amat) deket Kent Park. Awalnya kami kaget karena tribun udah sepi, ternyata emang acaranya udah selesai. Filmnya udah beres diputer. Dan ternyata kami dateng telat. Jadi akhirnya kami mutusin buat jalan-jalan aja di sekitar taman. Yang ternyata ada sesuatu yang menarik perhatian yaitu Pasar Malam lebih tepatnya Lunapark sih soalnya banyak wahana permainan, dari yang unyu-unyu hingga yang begitu ekstrim. Bahkan ada satu wahana yang sebenernya ngga hanya menarik perhatian kami tapi juga semua orang. Yaitu kora-kora atau Gondol. Sejenis baby swing raksasa berbentuk perahu yang lebih barbar. 
 
Dan ternyata sebuah kebetulan yang tak disangka datang. Kami bertemu beberapa orang temen yang juga lagi jalan-jalan di sana. Akhirnya karena hanyut dalam euforia malam gempita yang penuh keceriaan dari muka setiap pengunjung di sana, kami memutuskan untuk beli tiket dan naik wahana itu. Dan karena dasar Si Laper Mata, kami beli dua tiket untuk wahana lain lagi (yang pada akhirnya ngga dipake juga). Setelah menunggu beberapa saat dalam antrian yang kami isi dengan gurauan. Tibalah giliran kami. Dan kami memutuskan untuk duduk di kursi barisan kedua dari yang ujung, karena sebenernya gua takut, tapi ya gua coba hadapi lah semua tantangan ini, karena gua tau, gua lebih dari kuat dari semua masalah hidup ini. 
 
Dan ternyata satu kata untuk wahana ini adalah "basah", karena telapak tangan gua sampe licin bercucuran keringat di tengah hawa musim gugur malam dengan angin yang mulai kencang berhembus. Juga dengan wahana ayunan yang dengan lepas mengayunkan para muda mudi yang haus akan adrenalin ini. Teriakan lancang yang terdengar dari segala arah mengekspresikan setiap perasaan riang, takut, dan puas dengan sempurna. Meskipun suara hati berbisik lirih meminta semua ini cepat berakhir. Dan ya, memang yang fana itu dunia, selepas bahagia yang membara pun tak lama mampu di sana. Karena seketika turun, perut mulai berontak mual dan isi kepala yang linglung pusing tak karuan. Sementara lisan masing-masing dari kami masih saja tertawa mengejek dan melempar caci sebagai canda. Malam pun berlanjut dengan skenario cengkrama, swafoto, dan ngemil sate Indo. Terakhir kami saling berpisah, menunggu kedatangan transportasi umum, dan berpulang. Ternyata memang tubuh menolak untuk lebih lama merasakan wahana di sana. 
 
Malam yang tak sempurna. Tapi mungkin akan jadi malam yang akan selalu kami kenang, kini maupun nanti. Gua rasa ringkasan hidup tereka sempurna di malam itu. Rencana yang tak terduga. Makna penantian proses yang lama. Pertemuan kawan baru dan lama. Bahkan tamparan realita yang ternyata memang selalu lebih baik dari rencana. Kita boleh berencana, kita harus berusaha, tapi terkadang kesadaran penerimaan akan kenyataan juga penting untuk dirasa. Persis kayak kata-kata Forrest Gump, "hidup itu seperti sebuah kotak cokelat, kita ngga akan pernah tau apa yang akan kita dapat". Tambahan dari gua, "tapi kita selalu dapat berencana untuk mengambil cokelat yang kita inginkan," meskipun balik lagi ke pasal pertama.
 
END
 
HAHA! Honestly aku ngga mengharapkan Rifqi nulis beneran.. Tapi ini anak beneran nulis.. He did it well. Sekarang saatnya lampiran foto-foto!
 
(kusaranin liatin foto-fotonya sambil dengerin We Are Scientist - After Hours)
 
  


Ini awalnya aku kira, aku yang bakalan panik di atas sana sambil teriak malu-maluin tapi ternyata aku yang paling kalem di antara mereka semua HAHA gila ngga padahal mereka udah merendahkan aku sebelum kami semua ada di atas. Ya Allah sumpah, diketawain ibu-ibu. Udah gitu aku hampir terbang tapi Rifqi untungnya sadar.


Pura-pura tidur.


Ini wahana Balerin, jadi kayak penari ballet gitu.. Diputer-puter dan kita duduk di roknya dia. Wahana yang ngga jadi aku dan Rifqi naikin padahal udah beli tiket (tiketnya rencananya kami simpen sih, bukan tiket kertas gitu--semacam kepingan gitu kayak yang dipake untuk main karambol...?)







Difotoin Oji.


Jadi kata Oji, Zahir, dan Agung tadinya ada anak kecil perempuan yang naik kuda-kudaan ini, sebenernya wahana damai tapi si anak kecil cari keseruan sendiri dengan goyang-goyang di atas kuda.



Beberapa orang yang turun bareng kami dari wahana Gondol. PUYENGGG



uPS kepencet.


Mau main ini! Belom kesampean (di Turki).






Rifqi bantu kucing yang ngga bisa turun dari pohon. Rifqi ngga suka hewan anyway. 





Bulannya bagus.




Anak-anak nakal yang bikin kucingnya nyangkut di atas pohon.






Ngga jadi nonton tapi gapapa we have fun already.




Selesai.


Aucun commentaire:

Publier un commentaire